Masa kecilku mungkin lebih indah dari pada saat ini. Saat itu ayahku
sehat dan berbadan gemuk, lucu sekali kalau mengingatmya. Bahkan dulu,
ayahku selalu mendapat panggilan dari keponakan-keponakannya dengan
sebutan "Pak Ndut" :D
Segalanya indah, segalanya membahagiakan
saat itu. Saat rasanya hidupku bisa dikatakan sangat berkecukupan.
setiap malam, aku dan semua anggota keluargaku selalu menghabiskan malam bersama atau dengan kata lain selalu jalan-jalan. Dan setiap akhir pekan, kami pergi rekreasi sekedar untuk menghilangkan penat dan kebosanan akan rutinitas selama seminggu. Indah bukan?
Sangat indah, sangat membahagiakan. Kami seakan tidak kekurangan satu apapun, tapi tentu saja kami tidak pernah lupa untuk menyisihkan uang kami untuk saudara kami.
Namun, kehidupan seseorang tidak selamanya berada di atas, karena pasti akan ada saatnya ka mi terjerembab di dasar jurang. Yah, perlahan segalanya berubah saat masalah yang datang begitu
tiba-tiba dan mengubah hidupku 180 derajat dalam sekejab. Ayahku
tertipu dengan buaian manis mulut teman lama ayahku. Teman yah teman ayahku lah sumber dari kekacauan hidupku saat itu.
Dari yang hidup serba berkecukupan menjadi hidup yang benar-benar penuh kekacauan. segalanya ludes, bahkan untuk makan pun kami bingung mencari kemana. Segala perabotan rumah tangga, segala peralatan elektronik, segala kendaraan lenyap dijual guna menutupi kebutuhan sehari-hari terutama makan. Segala yang dibawa kabur oleh teman ayahku bukan sepenuhnya milik ayahku, tapi juga milik beberapa teman ayahku yang lain, yang saat musibah itu datang, mereka malah meminta hak mereka pada ayahku yang jelas-jelas sama bingungnya untuk menutupi kebutuhan hidup. Tapi siapa peduli terhadap kesulitan ayahku? Tidak ada, karena mereka pun membutuhkannya.
Aku marah? Ya
Aku kecewa? Ya
Aku bingung? Ya
Aku merasakannya walau saat itu usiaku terbilang masih anak-anak yakni masih 8 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku tak bisa membantu apa-apa. Aku hanya bisa diam menyaksikan segala kekacauan itu. Kedua kakakku yang saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP dan kuliah semester 2 pun tak banyak membantu. Sama. Kami hanya diam dan merapata[pi segalanya.
Setiap hari yang kusaksikan hanya pertengkaran ayah dan ibuku. Jika tidak maka yang kusaksikan hanya tangisan ibuku. Sedih, tentu saja. Tapi, lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri. Aku bisa apa?
Untuk mengatasi tingkat kebingungan itu, kedua orang tuaku pergi ke tempat yang tenang di Lumajang sana untuk menenangkan diri. Aku bersyukur akan satu hal untuk itu yakni ibu dan ayahku tak sampai melakukan hal yang salah untuk menanganinya.
Tahun demi tahun, keluargaku tetap terpuruk dalam situasi yang menyulitkan itu. Namun, perlahan kami bangkit, ntah karena apa tapi aku yakin itu karena ayah dan ibuku sudah cukup menyadari apapun yang terjadi akan kehidupan kami tak lepas dari takdir Allah :)
Yah, kami tentu selalu kembali pada pikiran itu.
Hingga saat ini pun, kami mampu menjalani kehidupan kami yang mungkin tidak seberuntung dulu namun hidup kami pun tidak berkekurangan dan cukup. Kami bahagia tentu saja dengan kehidupan kami saat ini walaupun terkadang saat aku sendiri dan kembali teringat masa kecilku rasanya ingin sekali kembali ke masa itu dan rasanya ingin sekali membunuh teman ayahku yang sudah membuat hidup kami menderita saat itu.
Ada penyesalan dalam hatiku jika saja ayahku tidak menuruti buaian mulut temannya itu takkan terjadi apapun yang berbeda terhadap hidupku hingga saat ini. Tapi, tidak. Aku tidak pernah menyesali apapun yang terjadi dalam hidupku karena aku tahu segala yang terjadi dalam hidupku pasti karena kehendak-Nya. Aku tak boleh menyalahkan-Nya dalam hal ini dan dalam hal apapun.
Setidaknya aku bisa mengambil hikmah dari kejadian yang aku alami saat itu yakni keluarga kami jadi tahu rasanya bagaimana menjadi seseorang yang kebingungan hanya untuk makan. Kami juga menganggap kejadian itu sebagai suatu teguran dari Allah SWT, mungkin saat itu kami terlalu banyak menghabiskan uang dan kurang berbagi dengfan orang lain. Dan dengan kejadian itu keluarga kami pun terasa semakin hangat dan akrab. Kami bahagia dengan hidup kami saat ini. Untuk segala yang kami alami di masa kelam itu, memang takkan pernah kami lupakan tapi juga takkan pernah lagi kami ratapi sebagai sebuah penyesalan. Setidaknya kami punya pelajaran hidup yang bisa kami petik dari kejadian itu.
Terima kasih Tuhan untuk segala pelajaran hidup yang Kau berikan pada kami. Kami bahagia dengan segala anugerah-Mu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar